Tak Hanya di Indonesia, Tersangka Peretasan Situs Lembaga Negara Juga Beraksi di Mancanegara

Tak Hanya di Indonesia, Tersangka Peretasan Situs Lembaga Negara Juga Beraksi di Mancanegara

Pelaku peretasan situs lembaga negara telah berhasil ditangkap polisi di kediamannya yang berlokasi di Sleman, Yogyakarta, pada Kamis (2/7/2020) lalu. Kepala Divisi Humas Polri, Irjen. Pol. Argo Yuwono, mengatakan tersangka berinisial ADC itu telah meretas sebanyak 1.309 situs. Bahkan, tidak hanya di Indonesia saja, ADC juga melakukan peretasan situs mancanegara.

Polisi pun menduga, ada lebih dari 1.309 situs yang diretas oleh ADC. "Pelaku tidak hanya (beraksi) di Indonesia ternyata, ada juga di Australia, Portugal, Inggirs, Amerika, dia juga nge hack ke sana," kata Argo dalam konferensi pers yang disiarkan langsung melalui Kompas TV , Selasa (7/7/2020) siang. "Ini juga kami belum percaya apakah 1.309 akun yang di hack sama tersangka, ini masih didalami oleh Dittipidsiber apakah nanti masih ada jumlah yang lebih, ini masih kita dalami kembali," sambungnya.

Argo mengatakan, kepolisian telah mengecek apakah pelaku beraksi seorang diri atau bersama dengan timnya. Namun, hal itu masih didalami kembali oleh kepolisian. "Sedang kami dalami kembali," lanjutnya.

Argo Yuwono menjelaskan, dalam melakukan aksinya, pelaku meretas sejumlah situs untuk kemudian menuntut tebusan atau bayaran. Tebusan yang diminta yaitu senilai Rp 2 juta hingga Rp 5 juta pada pihak yang akunnya diretas. Apabila tebusan tersebut tidak dipenuhi, maka ia akan menghapus atau menahan situs yang diretasnya.

Selain itu,tersangka ADCjuga mengubah tampilan situs yang ia retas. "Pada prinsipnya, pelaku mengubah tampilan di akun tersebut, tampilan itu tidak bisa diakses." "Semuanya bisa diambil alih oleh pelaku ini, jadi pelaku ini mau membuat apa bisa, tapi pemilik akun tidak bisa apa apa," terangnya.

"Nanti setelah dikirimkan uang, ia akan memberikan kunci," sambung Argo Yuwono. Argo Yuwono mengatakan, setelah dilakukan pemeriksaan, tersangka ADC mengakui bahwa dirinya telah meretas sejumlah akun pemerintahan, akun akun swasta, hingga akun jurnal ilmiah. Di antaranya yaitu situs di Unair, dinas di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng), hingga situs Badilum Mahkamah Agung (MA).

Pelaku pun meminta uang tebusan untuk mengembalikan akses pemilik akun. "Tersangka ini meretas beberapa situs di Unair, Pemprov Jateng, Pemprov Jateng itu ada di beberapa dinas di sana, jurnal ilmiah, situs Badilum Mahkamah Agung, situsAMIK diIndramayu,PNSleman, ini dia hack dan minta imbalan uang," kata Argo Yuwono. Akibat tindakannya tersebut, menurut Argo Yuwono, pelaku dijerat UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE.

"Untuk kasus ini kita kenakan pasal 27 ayat 4, pasal 45 ayat 4, dan atau pasal 46 ayat 1, pasal 48, pasal 49, pasal 33UUNomor 19 Tahun 2016tentangITE," kata Argo Yuwono. Lebih lanjut, Argo Yuwono menyebutkan,pelaku kini terancam hukuman 12 tahun penjara dengan denda maksimal Rp 1 Miliar. "Ancaman 12 tahun, denda paling banyakRp 1 Miliar."

"Kasus ini sedang disidik Bareskrim, cyber utamanya, ini sedang kita kaitkan dengan laporan di Polres atau Polda yang lain, akan kita jadikan satu di Mabes Polri," terang Argo Yuwono. Argo Yuwono menyampaikan keterangan resminya terkait laporan kasus peretasan situs lembaga negara yang masuk ke Bareskrim Polri. Menurut Argo Yuwono, laporan adanya peretasan situs bermula dari laporan di Polda Yogyakarta pada Maret 2020 lalu.

Kemudian, pada 27 April 2020, pelapor dari Yogyakarta melaporkannya ke Bareskrim Polri. Selanjutnya, pada 2 Juni 2020, terdapat laporan peretasan yang masuk ke Polda Jabar. "Jadi kemudian oleh Bareskrim, laporan dari Polda Jabar dan PoldaJogja itu ditarik ke Bareskrim, dijadikan satu, dan dibentuklah satu tim untuk menganalisa kejadian ini, akun akun yang di hack," ungkapnya.

Menurut Argo Yuwono, tim tersebut kemudian turun dan berhasil menangkap tersangka ADC di Yogyakarta pada Kamis (2/7/2020). Pelaku ditangkap di kediamannya yang terletak di wilayah Sleman, Yogyakarta. "Jadi tim ini telah mengevaluasi dari Mabes Polri kemudian turun ke Yogyakarta, mengerucut kalau ada di Yogyakartatersangkanya."

"Kemudian dengan teknis dan dipadu denganIT akhirnya tim dari Bareskrim, dariSiber itu bisa menangkap pelaku ini di rumahnya kita tangkap dan kita bawa ke Jakarta," jelas Argo Yuwono. Atas adanya kejadian ini, Argo Yuwono mengimbau masyarakat untuk berhati hati. Ia juga menegaskan pada para hacker bahwa pihak kepolisian siap berperang pada pelaku peretasan situs.

"Kami berharap pada masyarakat untuk berhati hati, jika punya akun akun tolong dicek setiap saat, dicek juga keamanannya." "Untuk hacker , dengan adanya kasus sepeti ini, saya dari Mabes Polri siap untuk perang dengan hacker yang membuat akun akun itu tidak berguna dan melanggar pidana, akan kita jaring terus," tegasnya.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *